Wednesday, November 14, 2012

One Year! *yeay*

Halooooooooooo!

Gimana kabarnya Anda-anda semua? Semoga baik-baik saja ya. :D

Jadi gue baru saja selesai UTS. *fiuh! Ini adalah salah satu alasan kenapa gue belum sempat update blog. Ditambah lagi H-1 minggu sebelum UTS, tugas menumpuk puk puk. Jatah presentasi, makalah untuk tugas UTS, tugas pribadi, HUAAAH! I'm so glad it's over now. :')

Ada beberapa hal yang sedikit 'lucu' ketika UTS selama seminggu kemarin. Pas hari pertama ujian, gue berangkat dari rumah. Ujiannya jam 1 siang, dan gue udah jalan dari jam 11. Ternyata MACETTTT! Parah bener dah Jakarta ini ya ampun. Mana-mana macet, jalan tikus pun macet, entah mau lewat mana lagi biar bisa lebih cepet. Fyi, dari rumah ke kampus itu biasanya kurang lebih sejam. Tapi karena macet yang nyebelin itu, akhirnya gue sampai di kampus jam setengah 2. Bokap udah khawatir, takut kalau gue gak dikasih ujian sama pengawasnya. Mana waktu itu ruang ujiannya di gedung baru UMN (gedung C), alhasil gue lari-lari berharap pengawasnya telat dateng, tapi jelas gak mungkin sekali.

Pas perjalanan menuju ruang ujian, di lift, gue papasan sama seorang yang juga pengawas. Doi nanya, "Telat, ya?". Gue jawab, "Iya, Pak. Macet banget.". Abis itu si Bapak ngeliat jamnya dan bilang, "Baru setengah dua, masih belum telat kok.". Kalimat itu bagaikan udara sejuk buat gue yang hampir kehabisan napas karna lari-lari. Tapi sesampainya di ruang ujian, pengawas gue bilang, "Mbak, udah lewat 15 menit." Okay, jadi batas toleransi yang sesungguhnya ternyata hanya 15 menit dari jam ujian. Gue di PHP-in sama Bapak tadi! :"( Gue mulai panik sebenarnya, tapi masih sok tenang karna anak-anak udah ngerjain dengan serius. "Jadi gimana, Bu?". "Kamu lapor dulu ke BAAK."

Akhirnya gue turun lagi, dengan sedikit lari ke BAAK. "Kenapa?" Bapak di BAAK menyapa. "Saya telat, Pak. Dan disuruh ngelapor ke sini.". Terus doi lihat jam dan bilang, "Ini udah lewat 15 menit. BAAK gak bisa apa-apa. Ini tergantung pengawasnya. Coba aja kamu ngomong." Well!! Really? Dioper-oper gitu gue jadinya. Dengan pikiran jelek yang makin ngaco, gue balik lagi ke ruang ujian sambil narik napas dalem-dalem. Pikiran negatif gue bener-bener berhasil bikin gue pingin nangis di tempat. Akhirnya sekembalinya ke ruang ujian, gue jelasin kenapa bisa macet dan minta pengertian dan pertimbangan Ibunya.
 
"Yaudah kamu boleh ujian.". Huah! Thanks, God!
"Tapi nama kamu udah saya tulis di berita acara. Jessica tidak mengikuti ujian. Saya hapus, ya." Lanjut si Ibu. Muka gue datar, bener-bener datar. Antara mau ketawa, kesel, seneng, dan speechless. Are you kidding me? :))) Abis itu, gue ke kursi ujian gue, minum seteguk, dan tarik napas dalam-dalam. Mencoba untuk tenangin pikiran sebelum ngerjain soal. Jujur, waktu itu tangan gue gemeteran, bok! "Tidak ada penambahan waktu, ya." Iya, Bu. Dikasih kesempatan buat ngikut ujian aja gue udah bersyukurrr banget! :')

Seumur-umur, baru kali ini loh gue telat buat ujian. Semoga gak terulang lagi deh karena gue gak yakin di lain kesempatan, pengawasnya bisa sebaik Ibu ini. Thanks once again, Miss!

Terus hal kedua adalah ketika ujian mata kuliah Sosiologi Komunikasi. Jadi ketika dibagiin kertas ujiannya, gue cuma ngisi nama, NIM, mata kuliah, dsb, tanpa membuka kertas jawaban tersebut. Gue lihat teman-teman kok udah pada ngerjain ya. Tapi kok gue belum dapet soal? Kebetulan teman samping, dan depan gue juga enggak dapet soal. Akhirnya teman di samping ngomong ke pengawasnya, "Bu, saya belum dapat soal.". Gue juga ikutan bilang begitu. Sang pengawas mukanya seperti kebingungan gitu sambil mengambil soal ujian untuk kita. Terus tiba-tiba teman di depan bilang, "Eh ternyata soalnya di dalam kertas jawaban!"

Ealah! Udah diselipin toh ternyata. Malu bet dah! X))) Tapi ya gimana dong, abisnya enggak dikasih tau kalo soal udah di dalemnya. Kan gue enggak biasa buka-buka kertas jawaban gitu. Pengalaman deh, lain kali cek dulu lembar jawabannya sebelum nanya, daripada malu nantinya. Semoga hasil ujian tengah semester 3 ini memuaskan ya buat kita semua! :D

Anyway, ternyata blog Everything Goes Through My Lenses ini sudah setahun loh! Yeayyyy~ Iya gue tahu, gue jarang update. Ide sih banyak, keinginan buat ngupdate juga besar, tapi keinginan buat do it nya enggak ada. :'( Tapi gue udah janji buat sering update blog ini. Banyak hal-hal yang ingin gue share di sini. :)) Terima kasih buat pembaca setia maupun pembaca iseng. Hihihi! Saran dan kritik sangat ditunggu loh.

Have a great long weekend, fellas! :D



Jessica Chiu.

Sunday, September 30, 2012

Don't Judge!

Manusia pada dasarnya akan selalu menilai orang. Terkadang first impression lah yang membuat seseorang akhirnya menge-judge orang lain. Seperti misalnya, ketika melihat seseorang yang rambutnya kecoklatan, langsung kita berspekulasi kalau orang tersebut mengecat rambut. Namun pada kenyataannya bisa saja kan kalau pada dasarnya rambut orang itu memang tidak hitam? Atau ketika kita melihat seseorang yang menjual baju dengan harga yang sangat mahal, padahal kita menemukan baju yang sama dengan harga yang jauh lebih murah. Langsung kita menghakimi kalau orang tersebut mau untung besar. Padahal belum tentu, bukan? Bisa saja si penjual itu tangan ketiga ataupun keempat, sehingga harga modalnya juga udah enggak murah lagi.

Jadi inilah yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Gue langsung menghakimi seseorang dari tampangnya. Gue udah pernah bilang kan kalau gue punya online shop joinan sama temen gue? Nah, pas kita buka PO kelima, tiba-tiba ada seorang abang-abang yang komen di gambar salah satu gelang yang kita jual. Awalnya gue kaget. Selama ini baik pembeli, maupun yang sekedar nanya-nanya itu semuanya perempuan. Belum pernah ada laki-laki. 

"Saya pesan satu, yang kodenya *******." Begitu komennya.

Sebelum gue bales komennya, gue langsung melancarkan aksi mencari tahu identitas orang ini dari facebook-nya. Okay, ternyata laki-laki ini bukan lagi seorang abang-abang. Tapi sudah menjadi seorang Bapak, karena ada status 'married to ....'. Terus gue lihat-lihat post-an dia. Ada status yang intinya adalah bahwa beberapa hari lagi sang istri akan ulang tahun, dan si Bapak bingung mau kasih hadiah apa. Mungkin aja dia mau menghadiahkan aksesoris dari La Dulce buat istrinya? Gue yang awalnya udah curiga dan mikir macem-macem kalau orang ini bakal cuman iseng, akhirnya merubah sedikit pikiran tak beralasan gue. Trus gue komen di gambar itu, dan minta untuk di-PM aja. Awalnya malah si Bapak gak ngerti loh arti PM itu apa.

Singkat cerita, gue udah PM duluan. Gue tanya, mau dikirim ke mana gelangnya? Terus Bapak dengan inisial MJ ini jawab, "Subang. Pembayarannya gimana ya? Saya gak punya rekening." Nah loh! Ini mah pasti iseng aja orangnya. Sok nanya-nanya dulu, akhirnya juga enggak beli, paling. Trus dengan cuek gue jawab, "Pembayaran via transfer aja, Pak." Dan tanpa gue duga, Pak MJ bales, "Oke deh." dan nanyain biaya kirim ke Subang berapa. Terus akhirnya gue minta alamat lengkap, nomor, dan segala macem. Abis dikasih, Pak MJ bilang, "Nanti saya hubungi lagi. Saya masih ada kerjaan."

Halah, basi! Belagak bilang ada kerjaan. Paling juga besok gak ada kabar lagi, gue pikir. Ternyata lagi-lagi gue salah. Besokannya, Pak MJ PM lagi dan ganti orderan. Bukannya malah mengurangi, tapi si Bapak nambah item loh! Gue terpana. Kalau bahasa sekarang itu sebutnya, "Ciyusss? Miapahh?" :p

Akhirnya gue totalin belanjaan dia, gue jabarin details pembeliannya + kasih nomor rekening dan dijawab dengan, "Oke mungkin saya transfer besok." Yayaya. Pokoknya kalau duit enggak ada, barang juga gak ada, Pak. Tapi gue gak bilang gitu kok! Gue jawab, "Ok. Nanti konfirmasi lagi aja. Terima kasih."

Besokannya gue iseng cek rekening. Tiba-tiba ada notif kalau Pak MJ udah transfer. UDAH TRANSFER!! Melihat tulisan nominal di rekening gue ini seakan bikin gue makin tertohok. Ternyata meskipun enggak punya rekening, Pak MJ setor tunai. Langsung deh gue buru-buru cek FB dan kabarin ke si Bapak kalau duitnya udah gue terima. Dan gue minta dia nunggu dengan sabar barang pesanannya yang dengan sistem PO.

"Tuh kan, Jes. Lagi-lagi lo nge-judge orang." Gue merutuki diri gue sendiri. 

Sebenarnya sudah banyak pelajaran dimana gue berusaha meyakini diri gue sendiri kalau gue gak boleh menghakimi orang lain sebelum gue tahu benar siapa orang itu, bagaimana, mengapa, kapan, dan apa yang sedang dilalui sama orang tersebut. Kasus Pak MJ ini seperti siraman air dingin ke gue. Pertama, adalah kalau enggak semua orang yang bertampang mencurigakan itu pasti orang jahat. Kedua, niat sang Bapak yang pingin ngasih hadiah buat ulang tahun istrinya (okay ini gue cuman sotoy, tapi kalo enggak, buat apa dong?). Dan yang ketiga, online shop gue TRUSTED! Yeayyy!

Gue lebih memilih punya seorang customer seperti Pak MJ ini yang memang serius membeli daripada lima customers yang mau beli, tapi ternyata hit and run, alias hilang tanpa kabar. Enggak bayar, enggak konfirmasi. Sebodo amat juga sih, seperti yang gue bilang tadi, toh kalo duit enggak ada yang barang juga gak ada. Dan tentunya, pembeli yang seenak jidat itu di-BLACKLIST. :p

Anyway, terima kasih banyak Pak MJ. Terima kasih karena sudah beli. Terima kasih juga karna Bapak ngingetin gue lagi tentang betapa enggak bolehnya kita menge-judge sesuatu dari tampak luarnya saja.


"When you judge another, you do not define them. You define yourself." -Wayne Dyer.



Jessica Chiu.