Sunday, April 15, 2012

Cerpen: Wanita Itu Mamaku

UTS tinggal 3 hari lagi, dan gue bener-bener gak sabar pingin cepat-cepat selesai. Huahh! Rasanya deg-degan nungguin waktu buat ngerjain soal UTS nya.

Oh iya, barusan gue nemuin file Ms.Words tugas gue di semester satu. Tugasnya yaitu membuat cerpen (cerita pendek) dari pelajaran Creative Writing. Ada yang tertarik untuk baca? Hihihi... Jadi, ini dia cerpen gue dengan judul Wanita itu Mamaku yang dibikin entah tanggal berapa. Enjoy reading! :))



Wanita Itu Mamaku
Jessica Chiu

Aku tak pernah berharap akan memiliki mama baru. Tentu aku memikirkan perasaan papa, bagaimana ia membutuhkan sesosok ‘istri’ yang bisa menemani hidupnya. Tapi aku sungguh tidak rela papa menikah dengan wanita itu selang enam bulan kepergian mama.

“Kirana! Sebelah sini.” Seru seorang wanita, yang tak lain adalah ‘mama’ baruku.
            
Papa ditugaskan ke Surabaya untuk waktu yang lama. Jadi, ia membeli sebuah rumah di sana untuk keluarga baru kami. Aku yang baru saja menamatkan SMP ku di Jakarta, sekarang harus melanjutkan SMA di Surabaya. Dan Tante Naomi, mama tiriku yang menjemputku di bandara. Semoga saja aku mendapatkan teman yang cukup asyik seperti teman-temanku di Jakarta.
             
Di perjalanan, ia berusaha untuk mengajakku ngobrol. Ia menanyakan bagaimana Ujian Akhir Nasional ku, bagaimana acara perpisahan dengan teman-temanku, dan bahkan ia ingin melihat yearbook ku. Aku hanya menjawab sekedarnya.
            
Mamaku, maksudku mama kandungku, meninggal karena kanker serviks 6 bulan yang lalu. Sebenarnya sudah lama penyakit ini ada di dalam tubuh mama. Itulah mengapa aku tidak mempunyai adik, karena setelah melahirkanku, virus jahat itu menetap di leher rahim mama. Segala macam pengobatan sudah dilakukan. Dan sebenarnya mama sudah hampir sembuh dari penyakit yang mematikan itu. Tapi entah mengapa setahun yang lalu, kanker yang pernah bersarang di tubuh mama kembali muncul dan malah lebih parah.
            
Kata dokter, kali ini memang sudah tidak bisa diobati lagi. Meskipun aku masih kecil, aku cukup mengerti kalau kanker adalah penyakit yang tidak ada obatnya. Dan benar saja, mama pergi tidak lama kemudian. Meskipun itu membuatku sangat terpukul, aku lebih rela mama dipanggil Tuhan, karena ia tidak menderita lagi sekarang ini, bukan? Tetapi, baru saja aku mulai bisa menerima keadaan bahwa mama sudah tiada, tiba-tiba papa menikah dengan Tante Naomi. Segampang itu kah mama tergantikan begitu saja?
             
Mobil berhenti di depan sebuah rumah bertingkat dua. Rumah ini cukup besar, bergaya minimalis dengan cat warna putih dan abu. Aku terpana.
             
“Kamu suka rumah ini, Kirana?” Tanya Tante Naomi.
            
“Iya Tante.” Kali ini aku menjawabnya dengan tersenyum. Tidak dapat kupungkiri lagi. Pikiran-pikiran jelek tentang rumah yang kecil, kuno di Surabaya ternyata salah besar.
            
“Di sini kamar kamu.” Ucap Tante Naomi sambil membukakan pintu yang bertuliskan 'Kirana’s Room'.
             
“Kamu beres-beres dulu, mama.. Eh, tante tinggal dulu.” Tante terlihat canggung. Ia tahu bahwa aku tidak suka bila ia menganggap dirinya mama ku.
            
Aku menghabiskan sisa hariku dengan membereskan barang-barang bawaanku. Senang rasanya menghiasi kamar yang bagus ini dengan bingkai foto ku. Ada foto ketika aku berumur 5 tahun yang diambil dari Dufan. Kata mama waktu itu aku hanya bisa main kuda-kudaan saja, itu pun ditemani papa. Lalu ada foto kami bertiga, papa, mama, dan aku yang diambil di Bali ketika aku duduk di kelas 2 SMP. Waktu itu papa minta tolong kepada seorang bule untuk mengambil foto ini ketika matahari terbenam di Kuta. Selanjutnya adalah frame kesukaan ku, dengan warna biru campur pink bentuk hati. Di sana terlihat wajah mama yang berseri sambil memelukku. Kami mengikuti lomba Mom & Child yang menguji sejauh mana kekompakkan ibu dan anak di hari ibu. Tak terasa air mata ku pun menetes. Aku kangen mama.
             
Tok tok tok... Tiba-tiba saja pintu kamarku diketuk.
            
“Kirana, papa sudah pulang. Ayuk kita makan malam bersama.” Panggil Tante Naomi.
             
“Iya, Tan.” Segera ku hapus air mataku. Satu-satunya orang yang ingin kulihat saat ini adalah papa.
           
“Papa!!” Seruku. Tanpa basa basi aku langsung memeluknya.
             
“Kirana! Papa kangen sekali sama kamu. Gimana? Kamu suka rumahnya?” Papa membalas pelukanku sambil mengelus kepalaku.
            
“Aku suka, Pa. Rumah ini bagus. Tidak seperti yang kubayangkan.” Jawabku yang langsung membuat papa tertawa.
            
“Hari ini aku masak makanan kesukaan Kirana dan kamu.” Ucap tante sambil menuang air putih. Papa memimpin doa sebelum mulai makan.
             
“Pa, besok papa yang nganterin aku ke sekolah kan?”
            
“Oh tidak bisa, Kira. Papa harus sampai di kantor jam 7 pagi.”
             
“Yah... Anterin aku dulu baru ke kantor.” Pintaku memelas.
            
“Papa tidak boleh telat.”
            
“Kalau gitu siapa yang anterin Kira dong?” Aku kecewa dan mulai kesal. Besok kan hari pertama ku.
             
“Mamamu yang akan nganterin kamu.” Ucap papa ringan.
             
“Dia bukan mamaku!” Tiba-tiba saja aku berseru seperti itu. Tante Naomi yang dari tadi diam langsung menatapku. Terlihat sorot sedih di matanya.
            
“Kirana! Minta maaf sama mama. Kamu tidak boleh kurang ajar!” Suara papa mulai meninggi.
             
“Mamaku hanya ada satu. Hanya mama Farah untuk Kira!” Aku langsung meninggalkan meja makan dan lari ke kamar. Aku marah, sedih dan kesal. Kenapa papa malah membela Tante Naomi gitu sih? Papa gak ngerti apa kalau aku hanya mau perhatiannya. Aku tidak peduli lagi pada panggilan papa yang menyuruhku kembali ke meja makan.
             
Tanpa ku sadari, aku tertidur dalam tangisanku. Keesokkan pagi nya, aku pun berangkat ke sekolah diantar oleh Tante Naomi.
             
“Kamu jangan pikirin perkataan papa mu ya. Semalam dia hanya emosi saja.” Ucap Tante Naomi lembut.
             
“Iya tante. Aku... Aku minta maaf sudah kurang ajar sama tante.” Entah mengapa kata-kata itu meluncur saja dari mulutku.
             
“Tidak apa-apa, Kira.”
             
Mobil pun sampai di depan pintu gerbang SMA Kalam Kudus. Aku segera berpamitan dan masuk ke dalam sekolah.
            
Hari cepat berlalu. Aku mendapat banyak teman. Pikiran kalau mereka semua katrok ternyata salah besar. Teman-teman baruku gaul, meskipun kalau ngomong mereka medok sekali.
            
“Kamu dijemput ya, Kira?” Tanya teman baruku. Namanya Senna. Badannya mungil, kulit putih dan mata belo.
             
“Iya, itu di sana mobilku. Kamu mau ikut pulang?”
             
“Tidak usah. Aku juga dijemput nanti. Eh itu mama mu?” Tanya Senna ketika kami sudah dekat dengan mobil.
             
“Eh... Iya.” Jawabku singkat.
             
“Halo, Tante. Aku temannya Kirana. Namaku Senna.” Tanpa basa basi Senna langsung menjabat tangan Tante Naomi yang langsung dibalas dengan senyuman.
             
“Hai Senna. Akrab-akrab ya dengan Kira.”
            
“Iya, Tante tentu saja. Eh kamu mirip sekali dengan mamamu.” Ucap Senna ringan dengan nada ceria. Dia tidak pernah tahu, satu kalimat itu berhasil bikin aku salah tingkah. Begitu juga dengan Tante Naomi yang langsung terdiam.
             
“Eh... Terima kasih. Aku balik dulu ya. Sampai jumpa besok, Senna.”
            
Pandanganku lurus ke jalan. Betapa canggungnya keadaan ini. Padahal sudah jelas Tante Naomi adalah mama tiriku. Kok bisa-bisanya Senna bilang aku mirip dengannya. Tak lama kemudian kami pun sampai di rumah.
             
“Bagaimana hari pertama mu?”
              
“Seru, Tan. Teman-temannya baik. Guru-gurunya juga asyik dan terlihat gaul.”
            
“Hahaha... Tante yakin dalam beberapa hari pasti kamu betah tinggal di sini.”
             
“Semoga saja. Tan, aku mau pergi beli bahan-bahan untuk MOS nih.” Dua hari lagi MOS akan dilaksanakan. Kami, sebagai siswa baru harus menjalaninya dengan membawa berbagai atribut yang sudah ditentukan oleh kakak panitia.
             
“Kamu butuh apa saja memangnya? Nanti tante belikan, kamu beres-beres saja dulu.” Sebagai seorang mama tiri, Tante Naomi sungguh perhatian. Aku tidak bisa menangkap nada ‘kepura-puraan’ dalam suaranya.
            
“Aku butuh karton putih, spidol, bola plastik, pita warna putih dan merah.”
            
“Kalau pita tante punya. Kamu ambil saja di laci ketiga di kamar tante.”
             
“Oh, oke.”
            
“Itu saja yang kamu perlukan? Tante pergi beli sekarang ya.”
             
“Iya, Tan. Sepertinya cukup itu saja. Ehm... Terimakasih ya, Tan.” Aku mengucapkan kata ‘terima kasih’ dengan perasaan malu. Tidak biasanya aku mau terlibat dalam percakapan seperti ini dengannya.
             
Aku ingat apa yang harus ku lakukan. Segera aku menaiki tangga dan masuk ke kamar Tante Naomi, mencari laci yang dimaksud olehnya. Dalam sekejap aku menemukan pita yang kucari.
            
“Nah ini dia!” Seru ku sambil mengangkat pita tersebut. Tiba-tiba sebuah kunci kecil terjatuh keluar.
             
“Apa ini?” Gumamku. Sepertinya ini kunci celengan? Atau diary, ya? Aku memasukkannya kembali ke dalam laci. Tetapi sesuatu menangkap perhatianku.
            
Ku lihat sebuah buku, seperti buku diary, berwarna coklat tua dengan hard cover dan terkunci oleh gembok kecil. Rasa penasaranku mencuat. Tanpa mikir, aku langsung memasukkan kunci kecil itu untuk membuka gemboknya. Dan gembok itu pun terbuka. Aku deg-degan, tapi juga penasaran. Kubuka cover diary tersebut.
             
Buku ini punya Tante Naomi. Ada foto ukuran 4R yang tertempel di halaman pertama. Foto Tante Naomi ketika masih muda. Cantik sekali dirinya. Di bawah foto itu ada tulisan tangan ‘Naomi Valentina’. Aku membalikkan halamannya dan mulai membaca curahan hatinya.

Jakarta, 2 Agustus 1986
Diary, aku senang sekali karena kuliah akan segera dimulai. Aku berteman dengan dua orang yang ternyata satu kelompok dengan ku untuk OSPEK. Namanya Randy dan Farah. Mereka tidak sombong loh. Bahkan Farah anak yang sangat aktif dan lucu. Semoga pertemanan kami berlangsung selamanya.
            
Aku terkejut dan tidak menyangka kalau papa dan mama sudah kenal dengan Tante Naomi saat mereka kuliah.

Jakarta, 24 Desember 1986
Malam ini aku menghabiskan malam natal bersama Randy. Seharusnya Farah ikut bersama kami. Tapi tiba-tiba saja dia harus pulang ke Medan untuk acara keluarga. Kami pergi makan malam di sebuah restoran all you can eat. Sehabis makan, Randy ajak aku untuk karoke sampai malam. Lalu ia mengantarkanku ke rumah, waktu itu tepat pukul 00.00. Tiba-tiba saja dia mengucapkan, “selamat hari natal!” sambil mengacak-acak rambutku. Diary, aku deg-degan sekali. Apa aku suka sama dia?
            
Aku sungguh terperangah, dan hanyut dalam tulisan-tulisan ini.

Jakarta, 14 Februari 1987
Fakultas Ilmu Komunikasi membuat acara Valentine. Aku sungguh kaget melihat Farah datang bersama Randy. Sedangkan aku terjebak bersama Steven yang bersikeras untuk menjemputku. Acara ini sungguh romantis dan seru. Tau gak, Randy nembak Farah di depan kami semua dan mereka resmi berpacaran hari ini. Hatiku sakit sekali. Aku sudah menyukai Randy sejak malam natal itu. Diary, aku patah hati.

Terlihat beberapa bekas tetesan air mata di kertas berwarna pink ini. Ya ampun...

Jakarta, 9 Maret 1987
Meskipun patah hati, makin hari, rasa suka ku ke Randy semakin besar. Kenapa bisa seperti ini? Oh iya diary, aku baru saja mendapat kabar yang mengejutkan dari mama. Tiba-tiba saja aku akan dipindahkan untuk kuliah di luar negri bersama tanteku. Mungkin ini jalan Tuhan untukku, supaya aku tidak melulu merasa sakit hati. 

Jakarta, 10 April 1987
Diary, besok aku akan berangkat meninggalkan kota ini. Aku ketemuan dengan Farah, tapi tidak dengan Randy. Farah memberikanku gelas dengan foto kami bertiga, aku, dia, dan Randy. Aku tersenyum miris melihatnya. Aku kecewa tidak ada Randy di sana. Tapi diary, ia tiba-tiba saja meneleponku tengah malam dan menyuruhku untuk keluar. Ternyata dia sudah ada di depan rumah. Akhirnya kami duduk dalam mobilnya dan berbincang-bincang. Randy bilang kalau dia akan mendoakan yang terbaik untukku. Aku hanya tersenyum. Tapi tiba-tiba dia memelukku, dan bilang kalau dia tidak rela aku pergi. Diary, aku sungguh kaget tadi. Jantung ku berdegup kencang, apakah dia mendengarnya? Apakah dia sadar apa yang sedang ia lakukan? “Aku suka sama kamu, Naomi. Setelah jadian sama Farah dan jauh sama kamu, aku baru sadar kalau ternyata yang aku suka itu kamu. Aku merasa bodoh, merelakanmu untuk Steven. Tapi sekarang semua sudah terlambat, kamu sudah mau pergi dan aku punya Farah. Semoga kamu sukses di sana, Naomi.” Randy menyelesaikan kata-katanya sambil mencium keningku.
             
Papa? Papa menyukai Tante Naomi dari dulu?

Sydney, 23 Desember 1994
Halo diary! Tak terasa sudah lama aku tidak curhat ke kamu yah. Sekarang aku sudah bekerja di perusahaan Sim Card sebagai PR loh. Cita-cita ku akhirnya tercapai. Besok aku akan balik ke Jakarta, dan mulai tahun depan aku akan berkerja di kantor cabangnya. Jakarta, kota kenanganku. Apa kabar?

Jakarta, 15 Januari 1995
DIARY ! It’s so coincidence. Aku satu kantor dengan Randy! Tak kusangka balik dari Sydney, orang pertama yang ku temui malah dia. Randy yang sekarang terlihat sangat dewasa. Setelah pulang dari kantor, kami mampir ke sebuah kafe untuk ngobrol dan berbagi cerita. Ternyata dia masih jadian dengan Farah, senang rasanya mendengar kenyataan kalau hubungan mereka awet. Dia juga memujiku. Katanya aku wanita karir yang sangat cantik. Tolong hentikan itu, Randy.

Jakarta, 18 Januari 1995
Hari ini kami bertiga kumpul lagi. Farah, aku dan Randy. Yang mengejutkan aku adalah ternyata mereka berdua sudah tunangan dan akan menikah beberapa bulan lagi. Aku menyelamati mereka, dan dengan tulus mendoakan mereka. Aku melihat Randy mengecup kening Farah di depanku. Ternyata, rasa sakit itu masih ada.
             
Aku menutup mulutku. Cerita papa, mama, dan tante sungguh seperti novel.

Jakarta, 21 Februari 1995
Diary, maafkan aku!! Semalam aku pergi ke sebuah bar. Sebenarnya aku hanya ingin minum sedikit untuk refreshing. Pekerjaan semakin hari semakin berat. Tak kusangka aku bertemu dengan dia, Randy. Sepertinya dia sudah minum banyak. Ketika melihatku, ia langsung berseru dan memintaku untuk gabung dengannya. Tiba-tiba saja dia bercerita kalau dia sedang tertekan. Orang tua Farah meminta agar pernikahan mereka dipercepat, entah apa alasannya. Aku yang sudah minum banyak samar-samar mendengar, “Naomi, sampai sekarang pun aku tetap memikirkanmu. Kau tahu? Meskipun ada Farah depan mataku, kamulah yang selalu ada di hatiku. Lucu bukan? Hahahaha... Naomi, bagaimana kalau kamu saja yang menikah denganku? Menjadi istriku? Naomi...” Randy mabuk parah. Dengan sisa-sisa kesadaranku, aku mengantarnya sampai ke rumah. Dan di sinilah kesalahanku diary. Seharusnya aku meninggalkan Randy di bar. Tapi aku malah datang ke tempat ini. Tiba-tiba Randy menarikku, “Naomi temani aku...” Dan semua itu pun terjadi.

Jakarta, 3 April 1995
Pernikahan Randy dan Farah tinggal seminggu lagi. Dan aku sedih pada kenyataan kalau benihnya tertanam di diriku. Hubungan satu malam yang menyisakan perih di hati itu ternyata juga membuahkan seorang janin. Malam itu adalah malam terakhir aku bertemu dengan dirinya karena tiba-tiba saja lelaki itu cuti dari kantor. Di atas meja ku sekarang ada undangan pernikahan mereka. Apa yang harus kulakukan?

Jakarta, 10 April 1995
Aku datang ke acara pernikahan mereka yang sederhana namun terlihat mewah. Baik dia maupun Farah memelukku, dan aku benar-benar mengucapkan selamat. Sungguh memalukan, mengapa bisa-bisanya aku pingsan di resepsi pernikahan mereka? Dan berita soal aku hamil pun terdengar oleh Farah dan Randy. Farah bertanya dengan polos, siapa ayah dari bayi ini. Tidak disangka Randy mengakuinya dengan suara lantang. Farah langsung shock dan jatuh seketika. Kami berdua menangis bersama. Aku tahu kebodohan ku, membiarkan semua itu terjadi. Dan aku yakin, Farah pasti akan benci setengah mati padaku. Sahabatnya yang tega tidur dengan calon suaminya, bahkan sekarang mengandung anak dari suaminya. Randy bersikeras untuk bertanggung jawab. Tapi aku telah memikirkan secara matang, aku akan membesarkan anak ini sendiri. Farah dan Randy harus memulai lembaran baru mereka tanpa bayang-bayang diriku.

Jakarta, 19 September 1995
Kandunganku sudah memasuki bulan ke-enam. Setelah insiden yang memalukan itu, aku berusaha untuk menghindari kontak dengan mereka berdua. Aku sudah berkomitmen, aku tidak akan meminta pertanggungjawaban dari Randy. Tapi hari ini, mereka berdua datang menemuiku dengan membawa suatu berita yang mengejutkan. Farah terkena kanker rahim stadium awal yang tidak memungkinkan dia untuk hamil. Mereka menyatakan maksud kalau mereka menginginkan bayi yang ada di kandunganku. Awalnya aku tidak mau. Tapi melihat Farah yang menangis tersedu-sedu bahkan berlutut memohon kepadaku, akhirnya aku menyetujuinya. Dengan syarat, bayi ini harus diberi nama Kirana. Kisah Randy dan Naomi.

Aku langsung lemas seketika. Aku sungguh tak kuat berdiri, membaca tulisan yang menguak misteri tentang diriku. Mata ini tidak tahan lagi membendung air mataku. Dengan tangan gemetar, aku membalikkan halaman buku ini dan lanjut membaca.

Jakarta, 13 Febuari 1996
Selamat datang ke dunia yang penuh dengan kejutan ini, Kirana. Kamu sungguh cantik. Semoga kamu menjadi anak yang patuh, dapat diandalkan dan hormat kepada orangtua. Meskipun, mama hanya bisa menjadi tantemu. Mama sayang kamu dengan sepenuh hatiku.

Aku terisak. Tante Naomi? Mama kandungku? Mama...

Beberapa lembar ke belakang dari diary ini menceritakan tentang bagaimana perasaan Tante Naomi tentangku. Bagaimana ia senang sekali melihatku yang sudah bisa memanggil mama ke Mama Farah. Bagaimana ia sedih melihatku jatuh di taman bermain, yang bahkan aku sudah tidak ingat sama sekali. Ku lihat lembaran terakhir dari buku harian ini.

Jakarta, 3 Mei 2011
Diary, Farah meninggalkan kita semua setengah tahun yang lalu. Aku berharap Tuhan menjaganya di sana. Sudah sebulan aku resmi menjadi istri Randy. Mungkin ini sudah jalan hidupku, untuk bersama dengan dirinya. Meskipun Kirana sangat terpukul dengan pernikahan ini, dan selalu memanggilku dengan Tante, aku tetap berharap suatu hari nanti putriku akan memanggilku dengan sebutan Mama. Mama sayang kamu, Kirana.
             
Tiba-tiba terdengar suara bungkusan yang jatuh ke lantai. Ku lihat Tante Naomi berdiri di depan pintu kamar sambil menutup mulutnya, terkejut dan tak menyangka. Aku yang bergelinang air mata langsung lari dan memeluknya.
            
“Mama...” Aku memeluknya erat.  Memeluk tante yang sebenarnya adalah mama kandungku.

***

Gue gak tahu kenapa bisa memilih tema ini untuk dijadikan cerpen. Yang pasti gue dapat inspirasi pas lagi mandi. Memang bener ya ternyata, kamar mandi itu sumber inspirasi. :D

Sedikit komen dari kalian buat cerpen amatir ini sangat berharga buat gue. Jadi, jangan ragu-ragu buat kasih komen, ya. Thanks a lot! :))



Jessica Chiu.

No comments:

Post a Comment